HIDUP CINTA??!!

17 01 2011

Orang terkuat BUKAN mereka yang selalu menang
MELAINKAN mereka yang tetap tegar ketika mereka jatuh
Entah bagaimana dalam perjalanan kehidupan
Kamu belajar tentang dirimu sendiri
Dan menyadari bahwa penyesalan tidak seharusnya ada
HANYALAH penghargaan abadi yang ada atas pilihan-pilihan kehidupan yang telah engkau buat

Lebih berbahaya mencucurkan air mata dalam hati
dibandingkan menangis tersedu-sedu
Air mata yang keluar dapat dihapus, sementara air mata yang tersembunyi menggoreskan luka yang tidak akan pernah hilang..
CINTA?

Adalah ketika kamu menitikkan air mata dan MASIH peduli terhadapnya
Adalah ketika dia tidak mempedulikanmu dan kamu MASIH menunggunya
Adalah ketika dia mencintai orang lain dan kamu MASIH bisa tersenyum kepadanya sambil berkata ‘Aku turut berbahagia karena Kau bahagia`..
Dalam urusan cinta, kita SANGAT JARANG menang
Tapi, ketika CINTA itu TULUS, meskipun kalah, kamu TETAP MENANG hanya karena kamu berbahagia..dapat mencintai seseorang lebih dari kamu mencintai dirimu sendiri..
Mencintai bukanlah bagaimana kamu melupakan, melainkan bagaimana kamu MEMAAFKAN.
Bukanlah dimana kamu saling menguasai, melainkan dimana kamu saling BERBAGI.
Bukanlah bagaimana kamu mendengarkan..melainkan bagaimana kamu MENGERTI.
Bukanlah apa yang kamu lihat..melainkan apa yang kamu RASAKAN.
Bukanlah bagaimana kamu melepaskan, melainkan bagaimana kamu MENGIKHLASKAN.
Apabila cinta tidak berhasil, BEBASKAN dirimu
Biarkan hatimu kembali melebarkan sayapnya dan terbang ke alam bebas LAGI.
Ingatlah bahwa kamu mungkin menemukan cinta dan kehilangannya
Tapi ketika cinta itu mati kamu TIDAK perlu mati bersamanya.
Akan tiba saatnnya dimana kamu harus berhenti mencintai seseorang,
BUKAN karena orang itu berhenti mencintai kita.
MELAINKAN karena kita menyadari bahwa orang itu akan lebih berbahagia apabila kita lepaskan..
Ada hal-hal yang tidak ingin kita lepaskan
Orang-orang yang tidak ingin kita tinggalkan
Tapi ingatlah..melepaskan BUKAN akhir dari dunia melainkan awal dari suatu kehidupan
Kebahagiaan ada untuk mereka yang menangis, mereka yang tersakiti, mereka yang telah mencari..dan mereka yang telah mencoba
Karena MEREKALAH yang bisa menghargai betapa pentingnya orang yang telah menyentuh kehidupan mereka..
Kadang kala, orang yang kamu cintai adalah orang yang PALING menyakiti hati tapi kadang kala teman yang membawamu ke dalam pelukannya dan menangis bersamamu adalah cinta yang tidak kamu sadari..
(Sumber :www.rupanheisei.wordpress.com)





PRIBADI TO DO, TO HAVE & TO BE

6 01 2011

 

 

 

 

 

 

“Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai.
Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain.” (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah.
Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa,
orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat
memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna
hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan
proses itu.

FASE PERTAMA, FASE TO DO.

Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu
alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai
mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini
sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan.
Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan
di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung
dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir
danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah
tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak
produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau
membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu
nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu,
kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang
keuangan dan marketing pernah berujar, “Banyak orang mengatakan berbisnis.
Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis.” Marilah kita menengok
hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa
sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

FASE KEDUA, FASE TO HAVE.

Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan
terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia
tidak mampu menikmati kehidupan.

Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan
kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang
sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra
perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk
mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang
mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang
mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun
spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan
diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan
terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di
balik kesukse sanny a. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang
memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa
banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita
tentang kesepian batin saya…,” katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi,
ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus.
Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

FASE KETIGA, FASE TO BE.

Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga
memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang
semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena
masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki
semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak
klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup!
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang
pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk
memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita
menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan
apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi
banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to
Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah
apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?”

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia
menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut
nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India .

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan
dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang,
lebih bermakna dan berkontribusi!

Sumber: Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin








Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.