PRIBADI TO DO, TO HAVE & TO BE

6 01 2011

 

 

 

 

 

 

“Kegembiraan terbesar dalam hidup adalah keyakinan bahwa kita dicintai.
Oleh karenanya, kita membagikan cinta bagi orang lain.” (Victor Hugo)

Tidak ada yang bisa menghentikan waktu. Ia terus maju. Umur terus bertambah.
Manusia pun mengalami babak-babak dalam hidupnya. Saat masuk fase dewasa,
orang memasuki tiga tahapan kehidupan.

Ada masa di mana orang terfokus untuk melakukan sesuatu (to do). Ada saat
memfokuskan diri untuk mengumpulkan (to have). Ada yang giat mencari makna
hidup (to be). Celakanya, tidak semua orang mampu melewati tiga tahapan
proses itu.

FASE PERTAMA, FASE TO DO.

Pada fase ini, orang masih produktif. Orang bekerja giat dengan seribu satu
alasan. Tapi, banyak orang kecanduan kerja, membanting tulang, sampai
mengorbankan banyak hal, tetap tidak menghasilkan buah yang lebih baik. Ini
sangat menyedihkan. Orang dibekap oleh kesibukan, tapi tidak ada kemajuan.
Hal itu tergambar dalam cerita singkat ini. Ada orang melihat sebuah sampan
di tepi danau. Segera ia meloncat dan mulailah mendayung. Ia terus mendayung
dengan semangat. Sampan memang bergerak. Tapi, tidak juga menjauh dari bibir
danau. Orang itu sadar, sampan itu masih terikat dengan tali di sebuah
tiang.

Nah, kebanyakan dari kita, merasa sudah bekerja banyak. Tapi, ternyata tidak
produktif. Seorang kolega memutuskan keluar dari perusahaan. Ia mau
membangun bisnis sendiri. Dengan gembira, ia mempromosikan bisnisnya. Kartu
nama dan brosur disebar. Ia bertingkah sebagai orang sibuk.

Tapi, dua tahun berlalu, tapi bisnisnya belum menghasilkan apa-apa. Tentu,
kondisi ini sangat memprihatinkan. Jay Abraham, pakar motivasi bidang
keuangan dan marketing pernah berujar, “Banyak orang mengatakan berbisnis.
Tapi, tidak ada hasil apa pun. Itu bukanlah bisnis.” Marilah kita menengok
hidup kita sendiri. Apakah kita hanya sibuk dan bekerja giat, tapi tanpa
sadar kita tidak menghasilkan apa-apa?

FASE KEDUA, FASE TO HAVE.

Pada fase ini, orang mulai menghasilkan. Tapi, ada bahaya, orang akan
terjebak dalam kesibukan mengumpulkan harta benda saja. Orang terobesesi
mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Meski hartanya segunung, tapi dia
tidak mampu menikmati kehidupan.

Matanya telah tertutup materi dan lupa memandangi berbagai keindahan dan
kejutan dalam hidup. Lebih-lebih, memberikan secuil arti bagi hidup yang
sudah dijalani. Banyak orang masuk dalam fase ini.

Dunia senantiasa mengundang kita untuk memiliki banyak hal. Sentra-sentra
perbelanjaan yang mengepung dari berbagai arah telah memaksa kita untuk
mengkonsumsi banyak barang.

Bahkan, dunia menawarkan persepsi baru. Orang yang sukses adalah orang yang
mempunyai banyak hal. Tapi, persepsi keliru ini sering membuat orang
mengorbankan banyak hal. Entah itu perkawinan, keluarga, kesehatan, maupun
spiritual.

Secara psikologis, fase itu tidaklah buruk. Harga diri dan rasa kepuasan
diri bisa dibangun dengan prestasi-prestasi yang dimiliki. Namun, persoalan
terletak pada kelekatannya. Orang tidak lagi menjadi pribadi yang merdeka.

Seorang sahabat yang menjadi direktur produksi membeberkan kejujuran di
balik kesukse sanny a. Ia meratapi relasi dengan kedua anaknya yang
memburuk. “Andai saja meja kerja saya ini mampu bercerita tentang betapa
banyak air mata yang menetes di sini, mungkin meja ini bisa bercerita
tentang kesepian batin saya…,” katanya.

Fase itu menjadi pembuktian jati diri kita. Kita perlu melewatinya. Tapi,
ini seperti minum air laut. Semakin banyak minum, semakin kita haus.
Akhirnya, kita terobsesi untuk minum lebih banyak lagi.

FASE KETIGA, FASE TO BE.

Pada fase ini, orang tidak hanya bekerja dan mengumpulkan, tapi juga
memaknai. Orang terus mengasah kesadaran diri untuk menjadi pribadi yang
semakin baik. Seorang dokter berkisah. Ia terobesesi menjadi kaya karena
masa kecilnya cukup miskin. Saat umur menyusuri senja, ia sudah memiliki
semuanya. Ia ingin mesyukuri dan memaknai semua itu dengan membuka banyak
klinik dan posyandu di desa-desa miskin.

Memaknai hidup!
Ia memaknai hidupnya dengan menjadi makna bagi orang lain. Ada juga seorang
pebisnis besar dengan latar belakang pertanian hijrah ke desa untuk
memberdayakan para petani. Keduanya mengaku sangat menikmati pilihannya itu.

Fase ini merupakan fase kita menjadi pribadi yang lebih bermakna. Kita
menjadi pribadi yang berharga bukan karena harta yang kita miliki, melainkan
apa yang bisa kita berikan bagi orang lain.

Hidup kita seperti roti. Roti akan berharga jika bisa kita bagikan bagi
banyak orang yang membutuhkan. John Maxwell dalam buku Success to
Significant mengatakan “Pertanyaan terpenting yang harus diajukan bukanlah
apa yang kuperoleh. Tapi, menjadi apakah aku ini?”

Nah, Mahatma Gandhi menjadi contoh konkret pribadi macam ini. Sebenarnya, ia
menjadi seorang pengacara sukses. Tapi, ia memilih memperjuangkan seturut
nuraninya. Ia menjadi pejuang kemanusiaan bagi kaum papa India .

Nah, di fase manakah hidup kita sekarang? Marilah kita terobsesi bukan
dengan bekerja atau memiliki, tetapi menjadi pribadi yang lebih matang,
lebih bermakna dan berkontribusi!

Sumber: Pribadi To Do, To Have, atau To Be? oleh Anthony Dio Martin


Tindakan

Information

2 tanggapan

29 09 2011
jumantoagung

thanks for inspirationnya…. jelou always

17 02 2012
Hamba Allah

pegembangan diri dgn pengalaman akan mematangkn kepribadian mejadi pribadi yg mejadi satu pilihan untuk merubah menuju pribadi yg lebih baik

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s




Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.