RSS

SEDIH

20 Jul

 sedih.jpg

Sedih …. suatu kata yang tak asing bagi kita. Mana ada manusia di dunia ini yang tidak pernah sedih? jawaban yang tepat adalah tidak ada. Kesedihan mungkin adalah derita jiwa yang dapat timbul akibat hilangnya sesuatu yang kita inginkan dan kita cita-citakan atau karena kita gagal mendapatkan apa yang kita cari. Sumbernya adalah karena kita terlalu mengagungkan nilai-nilai materi, haus pada nafsu-nafsu keindahan dunia, lalu merasa rugi kalau salah satu dari itu semua hilang atau gagal kita peroleh.

Kesedihan dan kebahagiaan bagaikan sisi mata uang yang tak pernah terpisahkan. kadang kita merasa bahagia sekali dan kadang kitapun merasa sangat sedih sekali. Kenapa kita bisa harus bersedih ??? Jawaban pertanyaan itu pastilah sangat beragam dan tergantung masing2 individu yang merasakannya. Sebenarnya kesedihan adalah pilihan sebuah tindakan. Allah berfirman : 

 “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ditimpa kekhawatiran dan tidak pula mereka bersedih hati.” (QS.10:62)

Al-Kindi (796-873M), seorang filosof awal Muslim, mengungkapkan tentang makna kesedihan yang menimpa pada kebanyakan manusia. Menurutnya, kesedihan yang ditimbulkan oleh manusia dan ditimpakan pada dirinya. Bukanlah sesuatu yang alami.

Kata al-Kindi, “Orang yang bersedih hati karena kehilangan miliknya atau gagal memperoleh sesuatu yang dicarinya, kemudian merenungkan kesedihannya secara filosofis lalu dia mengerti bahwa penyebab kesedihannya itu bukanlah keharusan, lalu dia saksikan banyak orang yang tidak memiliki harta itu tapi mereka tidak sedih, bahkan gembira dan bahagia, dia tak pelak lagi akan tahu bahwa kesedihan bukanlah hal yang niscaya dan tidak alami.”

ini berarti kesedihan merupakan sikap mental kita menghadapi kondisi lingkungan. Banyak orang yang dirundung kemiskinan tapi hatinya bahagia, sedangkan orang kaya hatinya belum tentu bahagia. Karena kekayaan materi belum tentu membahagiakan ruhani. Ini misalnya dapat kita saksikan orang-orang yang kehilangan anak, saudara maupun teman mereka, hingga terlihat betapa sedihnya mereka? Namun tak lama berselang, mereka pun kembali senang dan tertawa, bahagia, lalu pulih kembali seperti orang yang tak pernah bersedih hati sama sekali

Begitu pula orang yang kehilangan harta atau benda apa saja yang didambakan manusia, yang bila benda itu hilang dia jadi kecewa dan sedih hati. Orang seperti itu akhirnya gembira, lenyap kesedihannya, lalu bahagia lagi. Kalaulah seorang yang berakal mau mengamati secara cermat kondisi yang kerap terjadi dalam masyarakat banyak di saat mereka sedih, dan mengamati sebab-sebab yang melatarbelakanginya akan terlihat olehnya bahwa musibah tertentu tidak hanya menimpa dirinya saja dan bahwa akhir dari musibahnya adalah kegembiraan. Demikian pula  kesedihan adalah penyakit aksidental yang sama buruknya dengan penyakit yang ditimpakan manusia atas dirinya sendiri yang tidak alami seperti penyakit fisik

Kesadaran akan pentingnya nilai spiritual dibandingkan material ini tumbuh seiring dengan pertumbuhan alamiah jiwa yang dimulai di dalam rahim, ketika Allah meniupkan ruh-Nya sendiri ke dalam tubuh. Ruh ini, yang turun melalui alam Alastu, merupakan cahaya yang murni dan hidup, sedangkan tubuh adalah tanah gelap dan mati. Penyatuan ruh dan raga membangkitkan daya jiwa, yang mencakup dua dunia, spiritual dan material. Jiwa adalah perantara yang melaluinya ruh yang murni dan transenden dihubungkan dengan raga yang fana. Ia adalah jumlah keseluruhan kehidupan dan kesadaran yang muncul pada pertemuan cahaya dan jasad. Hanya jiwa yang lebur ke dalam dunia, namun secara batin terbuka bagi Yang Tak terbatas.

Terbukanya jiwa pada Yang Tak Terbatas akan menumbuhkan sebuah kesadaran spiritual. Kesadaran inilah yang menjadikan manusia mempunyai sikap bijaksana, tidak dengki, kesadaran kemanusiaan dan berorientasi pada yang kekal dan ruhani. Dengan kesadaran seperti ini maka kita seharusnya menyadari bahwa di alam ini tidak ada yang kekal. Janganlah seperti orang yang disodori wewangian yang langka untuk dihirup baunya dan dinikmati keharumannya, tetapi dia mendambakannya dan mengira bahwa wewangian itu diberikan padanya untuk selamanya, sehingga ketika wewangian itu diambil darinya, dia bersedih hati, kecewa dan marah.

Inilah kondisi orang yang mendambakan hal yang mustahil dan orang yang kehilangan akal sehat. Inilah kondisi orang yang dengki, sebab dia ingin menguasai barang-barang dan tak membaginya kepada orang lain dan dengki adalah penyakit terburuk dan kejahatan paling buruk. Oleh sebab itui, para filosof berkata, “Barangsiapa ingin supaya musuhnya ditimpa keburukan, berarti dia penjahat dan yang lebih jahat dari ini adalah orang yang ingin agar kebaikan yang dimiliki teman-temannya sirna, berarti dia menghendaki agar temannya ditimpa keburukan.”

Konsekuensi dari keburukan-keburukan ini adalah orang bersedih hati di saat orang lain memperoleh kebaikan, lalu dengki pada mereka karena mereka mendapat kebaikan. Tak soal apakah kebaikan–kebaikan itu berupa milik kita atau bukan milik kita.

Dalam hal ini dibutuhkan sebuah kesadaran akan makna hidup yang melepaskan diri dari jerat-jerat kedengkian dan rasa memiliki kedunian yang terlalu berlebihan. Sebuah kesadaran untuk membangun orientasi hidup yang lebih mengharmonisasikan hubungan antara Allah dan sesama manusia, berupa tujuan-tujuan yang berjiwa kesucian

Ada sebuah pepatah dari seorang ahli : Tidak ada kekayaan yang lebih berharga dari pada kekayaan hati dan jiwa

Wallahu A’lam Bishowab

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Jumat, Juli 20, 2007 in Live

 

One response to “SEDIH

  1. syifa

    Rabu, Agustus 1, 2007 at 2:27 am

    wuaduh… ukhti yang atu ini ternyata bisa juga ya. ttep semangadh!!

     

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: