RSS

Bijak Dalam Hidup

20 Feb

IMG_20140130_144903

 

Hari ini aku begitu lelah. Bukan hanya lelah fisik tapi lelah fikiran. Aku lelah dengan semuanya hingga memuncak dan ku hanya terpaku. Kadangkala manusia akan bertemu pada fase titik jenuh dan saat ini aku mengalaminya. Namun cepat-cepat ku sambar novel karya Tere Liye di meja kamarku, berjudul “Rembulan Tenggelam di Wajahmu”  yang baru ku pinjam siang tadi di Perpustakaan daerah. Selama liburan kampus ini, aku isi waktu luangku hari Sabtu untuk mengunjungi Perpustakaan Daerah. Tepatnya antara pagi sampai siang, aku gunakan untuk membaca dengan tdk lupa meminjam beberapa novel , untuk  dijadikan resensi naskah novelku. Meski aku tahu saat ini, aku belum bisa merampungkan naskah novelku, tapi ku selalu berusaha untuk kembali bangkit, seperti saat-saat seperti ini. Aku terpuruk dalam kesepian yang tak berujung. Aku lelah dengan rutinitasku tepatnya aku lelah dengan hidupku yang monoton.  Aku merindukan orang tuaku.

Kadang manusia memang masuk dalam fase ini. Dan setelah aku merenung mungkin perasaan jenuh ini akibat activity free saat weekend. Biasanya weekend begini aku gunakan pergi kampus, tapi sudah sebulan ini kampus libur kenaikan semester, sehingga otomatis aku jadi orang linglung. Inginnya pulang kampung halaman, tapi Hari ini sampai besok diminta My Big Bos untuk bermalam dirumahnya temani istrinya. Seperti biasa kalau My Big Bos keluar kota aku yang menemani istrinya, padahal sebenarnya ada pembantunya, tapi Ga tahu kenapa aku tetap diminta nemani istrinya selama Beliau Perjalanan Dinas. Hmmmm Tapi buat aku sih tidak masalah Cuma akibatnya aku tidak bisa hirup udara kampung yang bersih seperti weekend dan hari libur yang lalu-lalu. Tapi disini aku tidak membahas tentang kampung halaman, yang aku mau bahas kali ini adalah tentang bagaimana memahami arti sebuah kata “JENUH” dalam hal ini BIJAK DALAM HIDUP yang dipadukan pada kata-kata Novel Tere Liye  yang sungguh menakjubkan dan menjawab berbagai pertanyaan hidup yang sesungguhnya sangat krusial.

Pertama aku membaca novel ini, yang tersirat dalam benakku adalah Tebal dan itu jelas bosan. Tapi setelah ku baca halaman demi halaman, lembar demi lembar, kalimat demi kalimat, dan kata demi kata (jadi lebay ini :D), aku seperti terbangun dalam siluet kehampaan yang selama ini aku pandang maupun aku pahami. Yah benar dan tidak bisa dipungkiri kejenuhan adalah akibat sebuah factor sesuatu yang kadang kita tidak bisa capai. Entah itu sebuah Cita dalam hidup, ataupun alur kehidupan ataupun dunia percintaan kita. Yang jelas itulah kadang kita tidak bisa menangkap sebuah paradigma asal jenuh itu sendiri yang melanda di dalam diri kita. Dan sebagai manusia biasa aku akan berusaha menguak tabir sehingga kejenuhan itu bisa dipahami secara nalar dengan penerimaan yang indah yang berujung kebahagiaan.

Novel Tere Liye kali ini (Rembulan Tenggelam diwajahmu), dikemas seapik mungkin dalam alur maju mundur melalui perjalanan metafisik yang sangat unik, fantastic dan menarik. Yang menceritakan sebuah perjalanan panjang hidup seorang manusia bernama Rehan (Ray) yang selalu menyalahkan takdir dari Tuhan terhadap liku-liku perjalanan hidupnya. Sehingga memberikan pertanyaan-pertanyaan yang dia bawa di dalam kehidupannya. Lima pertanyaan yang selalu menghantui kehidupannya dan hanya mampu dia pertanyakan dan belum mengerti tentang sebuah “Keihklasan” ataupun “Ridha” sebagai seorang hamba Tuhan.

Kenapa ia harus hidup  di panti asuhan sial itu?
Apakah hidup adil?
Kenapa langit tega mengambil  istri tercintanya?
Apakah kaya adalah segalanya?
Kenapa ia harus sakit keras yang berkepanjangan?

Disini aku akan berusaha menjawab sesuai yang terkandung dalam novel itu. Cuma dalam bahasa atau gaya bahasaku. Untuk lebih jelasnya baca sendiri yah novelnya. J

Ray tokoh utama dalam novel ini, adalah seorang anak yatim piatu. Dia dibesarkan di sebuah panti asuhan. Namun Ray tidak suka dengan penjaga panti yang terlalu kejam menurutnya. Ditambah lagi penjaga panti tidak menyekolahkan anak pantinya (Ray dan teman sepantinya). Sebaliknya anak-anak panti disuruh untuk bekerja oleh penjaga panti, dan uang hasil kerja mereka dikasihkah ke Penjaga Panti yang gila pengen naik Haji. Dan dari sini dimulai pertanyaan pertama:

Kenapa ia harus hidup  di panti asuhan sial itu? Dan Apakah hidup adil?

Dari alur cerita novel ini, akhirnya dijawab bahwa segala hal yang terjadi dunia ini tidak ada hal yang sia-sia. Bahwa segala hal yang terjadi itu adalah rangkaian kehidupan yang saling berkaitan, dalam hal ini ada sebab akibat. Ray selalu mengeluh kenapa dia harus hidup di Panti yang sial itu dan kenapa tidak dipanti yang lain? Dan dia juga  merasa Tuhan tidak adil dengan hidupnya.

Kenapa Ray Hidup di Panti? Hal ini karena ternyata Ray adalah penyebab kematian teman pantinya yang sangat menyayangi Ray “Diar”. Dan setelah Diar meninggal, Diar adalah penyebab Penjaga panti bisa bertaubat. Dan akibat dari bertaubatnya penjaga panti, uang yang dia kumpulkan bertahun-tahun untuk naik haji, uang yang dia kumpul dari hasil keringat kerja keras anak-anak panti dan uang hasil dari donator itu di ikhlaskan untuk pengobatan Ray di Jakarta. Setelah di Jakarta dan setelah Ray sembuh dari operasi ginjalnya, Dia bergabung dalam rumah singgah yang sangat menyenangkan dan penuh dengan kekeluargaan. Di Rumah singgah itu Ray menemukan keluarga baru dan semangat baru. Namun ternyata kebahagiaan itu hanya sementara karena diganggu oleh preman di daerah itu. Sehingga beberapa teman yang satu rumah singgah itu banyak yang kehilangan mimpi-mimpi mereka akibat ulah preman tsb. Dia pun merasa Tuhan tidak adil dan selalu mengambil kebahagiaan orang yang baik.

Namun ternyata dari alur cerita novel ini dijawab, dengan melihat ke sisi yang lain. Kenapa kebahagiaan temannya yang waktu itu mau audisi menjadi penyanyi hebat, sampai dibiarkan Tuhan untuk direnggut oleh Preman, sehingga pita suara temannya rusak dan tdk bisa menyanyi lagi. Ternyata dibalik semuanya. Jika dia tetap ikut audisi pun temannya tsb tdk akan bisa menjadi penyanyi Hebat, Tapi dgn adanya kejadian itu Tuhan sudah menyiapkan kesuksesan lain yang jauh lebih sukses yaitu menjadi arasemen lagu-lagu yang membawa kesuskesan. Begitu pun dengan kesuksesan dirinya. Kesuksesan dirinya adalah sebenarnya bersumber dari rangkaian-rangkaian hidupnya,  yang Dia anggap itu tidak adil. Karena ketidak adilan yang sebenarnya dia temui itulah yang mengantarkan kesuksesan hidupnya.

Beranjak ke pertanyaan ketiga, kenapa Tuhan mengambil istrinya yang sangat dia Cintai dan Ray merasa Tuhan tidak adil. Sebenarnya jika dilihat dari perspektif kebahagiaan istrinya, itu adalah yang membahagiakan istrinya, karena cita-cita atau tujuan tertinggi istrinya adalah surga. Dimana jika istri meninggal dan suami Ridha adalah kunci pembuka pintu surga. Oleh karena itu sebelum istrinya meninggal, istrinya sempat bertanya apakah Ray ridha jika dia meninggal dan dengan terpaksa Ray Ridha dan Istrinya tersenyum menyambut surga. Namun kesemuanya itu belum dipahami oleh Ray karena dia hanya melihat pada satu sisi KEBAHAGIAAN DIA SENDIRI DAN BUKAN KEBAHAGIAAN ISTRINYA.

Pertanyaan ke-empat Apakah kaya adalah segalanya? Dalam novel ini, yang semula Ray dari panti, kemudian menjadi pengamen ini memiliki cita-cita menjadi orang kaya, namun setelah Ray benar-benar sukses dan kaya raya, hatinya masih Hampa dan belum menemukan kebahagiaan sejati. Dalam novel ini akhirnya dijawab kenapa Ray selalu masih merasakan kehampaan padahal sudah bergelimbang harta alias kaya raya, hal ini karena Ray hanya berpatokan kepada materi dan cinta dunia dan bukan menjadi orang bijak.

Disini aku melihat suatu gambaran unik dengan sebuah cerita yang penuh dengan nasehat. Dimana diceritakan:

“Dulu pernah hidup dua pemahat hebat.  Mereka terkenal hingga diundang Raja berlomba di istananya.  Mereka diberikan sebuah ruangan besar dengan tembok-tembok batu berseberangan.  Persis di tengah ruangan dibentangkan tirai kain.  Sempurna membatasi, memisahkan, sehingga pemahat yang satu tidak bisa melihat yang lain.  Mereka diberikan waktu seminggu untuk membuat pahatan yang paling indah yang bisa mereka lakukan di tembok batu masing-masing.”

“Kau tahu apa yang terjadi?  Pemahat pertama, memutuskan menggunakan seluruh pahat, alat-alat, dan berbagai peralatan lainnya yang bisa dipergunakan untuk membuat pahatan indah di tembok batunya.  Dia juga menggunakan cat-cat warna, hiasan-hiasan, dan segalanya.  orang itu terus memahat berhari-hari, tidak mengenal lelah, hingga akhirnya menghasilkan sebuah pahatan yang luar biasa indah.  Siapapun yang melihatnya sungguh tak akan bisa membantah betapa indah pahatan itu.”

“Tirai kemudian dibuka, tercenganglah pemahat pertama.  Meski dia sudah  bekerja sianng malam, persis dihadapannya, pemahat kedua ternyata juga berhasil memahat dinding lebih indah darinya.  Berkilai undah.  Berdesir si pemahat pertama.  Berseru kepada Raja, dia akan menambah elok pahatannya!  Berikan dia waktu!  Dia akan mengalahkan pemahat kedua.  Maka tirai ditutup lagi.  Tanpa henti pemahat pertama mempercantik dinding bagiannya berhari-hari.  Hingga dia merasa saingannya tidak akan bisa membuat yang lebih indah dibandingkan miliknya.”

“Tirai dibuka untuk kedua kalinya.  Apa yang dilihat pemahat pertama?  Sungguh dia terkesiap.  Ternganga.  Dinding di seberangnya lagi-lagi lebih elok memesona.  Dia berdesir tidak puas.  Berteriak meminta waktu tambahan lagi.  Begitu saja seterusnya, hingga berkali-kali.  Pemahat pertama terus meminta waktu tambahan, dan dia selalu saja merasa dinding batu miliknya kalah indah dibandingkan milik pemahat kedua.”

“Tahukah kau, Ray, pemahat kedua sejatinya tidak melakukan apapun terhadap dinding batunya.  Dia hanya menghaluskan dinding itu secemerlang mingkin, membuat dinding itu berkilai bagai cermin.  Hanya itu…  Sehingga setiap kali tirai dibuka, dia sempurna hanya memantulkan hasil pahatan pemahat pertama.”

“Ray itulah beda antara orang-orang yang keterlaluan mencintai dunia dengan orang-orang yang bijak menyikapi hidupnya.  Orang-orang yang terus merasa hidupnya kurang maka dia tidak berbeda dengan pemahat pertama, tidak akan pernah merasa puas.  Tapi orang-orang bijak, orang-orang yang berhasil menghaluskan hatinya secemerlang mingkin, membuat hatinya bagai cermin, maka dia bisa merasakan kebahagiaan melebihi orang terkaya sekali pun.” (RTD, hlm. 380-381)

Setelah membaca novel ini, yang semula aku jenuh dengan hidupku dan jenuh dengan semuanya, langsung berbalik 180 derajat. Aku khilaf sebagai manusia untuk bersyukur. Bukankah kita sebagai mansuia diwajibkan untuk selalu bisa bersyukur. Janganlah kita hanya mendongak ke atas, tapi kita juga harus melihat kebawah, masih banyak orang lain yang lebih susah. Kebahagiaan yang kita cari sebenarnya ada di hati kita. Kalau kita pandai bersyukur ingsyAllah semuanya akan indah. Bukankah Allah sudah berjanji dalam Alqur’an. Jika kita sebagai hamba pandai mengsyukuri setiap nikmat yang Allah berikan kepada hambanya, Allah akan menambah rejekinya, tetapi sebaliknya jika kita mengingkarinya sesungguhnya azabnya itu pasti. Dan ingat bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita itu tidak ada yang sia-sia, pasti ada sebab akibat ataupun hikmah yang akan kita petik nantinya. Bahkan gugurnya daun dari pohonnya pun itu atas semua KehendakNYa. Dan kita sebagai hamba tidak seharusnya maraguiNya. Karena segala sesuatu sudah tertulis dalam kitab laudz Mahfud.

Hmmmm kembali rileks, ini mungkin salah satu novel termanis yang pernah aku baca dan dari sini sarat makna atau banyak pembelajaran tentang arti sebuah Kehidupan yang aku peroleh. Di dalam novel karyanya Tere liye ini ada beberapa kalimat panjang, dan jelas tanganku gatal untuk tidak menulisnya. Dalam bukunya aku kutip dalam kalimat yang tersirat sbb :

“ Tidak semua orang mengerti apa sebab-akibat kehidupannya dengan tidak tahu. maka kamu akan menyadari, kalau tidak ada hal yang sia-sia dalam kehidupan. Setiap keputusan yang akan kamu ambil, setiap kenyataan yang harus kamu hadapi, kejadian-kejadian menyakitkan, kejadian-kejadian menyenangkan, itu semua akan kamu sadari sebagai bagian dari siklus bola raksasa yang indah yang akan menjadi sebab akibat bagi orang lain.

“ Sekecil apapun itu, setiap perbuatan kita memiliki sebab akibat.”

“ Siklus sebab akibat itu sudah ditentukan. Tidak ada yang bisa merubahnya kecuali satu, yaitu KEBAIKAN. Karena KEBAIKAN bisa merubah tadir.”

“ kita bisa menukar banyak hal menyakitkan yang dilakukan orang lain dengan sesuatu yang lebih hakiki, lebih abadi. Rasa sakit yang timbul karena perbuatananiaya dan menyakitkan dari orang lain itu hanya sementara. Pemahaman dan penerimaan tulus dari kejadian menyakitkan itulah yang abadi.”

“ Orang yang memiliki tujuan hidup, baginya semua kesedihan yang di alaminya adalah tempaan harga sebuah tujuan.”

“ Beda antara orang-orang yang keterlaluan mencintai duni, dengan orang yang bijak. Orang yang mencintai dunia menyikapi hidupnya dengan terus merasa hidupnya kurang dan tidak akan pernah puas. Sedangkan orang bijak menghaluskan hatinya dengan merasakan kebahagiaan melalui orang kaya.”

Sedangkan beberapa kalimat yang ku kutip dalam novel tsb adalah sbb:

“Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu. Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 “Bagi manusia, hidup itu juga sebab-akibat, Ray. Bedanya, bagi manusia sebab-akibat itu membentuk peta dengan ukuran raksasa. Kehidupanmu menyebabkan perubahan garis kehidupan orang lain, kehidupan orang lain mengakibatkan perubahan garis kehidupan orang lainnya lagi, kemudian entah pada siklus yang keberapa, kembali lagi ke garis kehidupanmu…. Saling mempengaruhi, saling berinteraksi…. Sungguh kalau kulukiskan peta itu maka ia bagai bola raksasa dengan benang jutaan warna yang saling melilit, saling menjalin, lingkar-melingkar. Indah. Sungguh indah. Sama sekali tidak rumit.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 “Andaikata semua kehidupan ini menyakitkan, maka di luar sana pasti masih ada sepotong bagian yang menyenangkan. Kemudian kau akan membenak pasti ada sesuatu yang jauh lebih indah dari menatap rembulan di langit. Kau tidak tahu apa itu, karna ilmumu terbatas. Kau hanya yakin , bila tidak di kehidupan ini suatu saat nanti pasti akan ada yang lebih mempesona dibanding menatap sepotong rembulan yang sedang bersinar indah.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 “Hanya orang-orang dengan hati damailah yang boleh menerima kejadian buruk dengan lega.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 “Semua orang selalu diberikan kesempatan untuk kembali. Sebelum mau menjemput, sebelum semuanya benar-benar terlambat. Setiap manusia diberikan kesempatan mendapatkan penjelasan atas berbagai pertanyaan yang mengganjal hidupnya.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 “Orang-orang yang memiliki tujuan hidup, tahu persis apa yg hendak dicapainya, maka baginya semua kesedihan yang dialaminya adalah tempaan, harga tujuan tersebut. Dan sebaliknya.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 “Tidak ada niat baik yang boleh dicapai dengan cara buruk, dan sebaliknya tidak ada niat buruk yang berubah baik meski dilakukan dengan cara-cara baik.”
Tere Liye, Rembulan Tenggelam Di Wajahmu

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Kamis, Februari 20, 2014 in Live

 

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: